Perbedaan Muzara’ah dan Mukhabarah

Perbedaan Muzara’ah dan Mukhabarah

November 18, 2023 0 By Yuliarti Selli

Selain muzaraah dan mukhabarah, ada juga musaqah, Cuma untuk pembahasan kali ini, lebih fokus kepada 2 tadi. Istilah ini cukup kurang dikenal oleh masyarakat umum, tetapi bagi yang sedang belajar ilmu fikih, pasti paham.

Kita sebagai umat muslim, setidaknya belajar akan hal ini jika lewat di beranda internet. Walaupun tidak paham di awal, tetapi dibaca dulu tidak apa. Siapa tahu nempel. Dalam kehidupan, sepertinya ilmu ini perlu, agar tidak salah kaprah dalam bertindak.

Pengertian Muzara’ah dan Mukhobarah

Secara bahasa, muzara’ah artinya penanaman lahan. Secara istilah, muzara’ah lebih ke suatu usaha kerjasama antara pemilik sawah atau ladang dengan petani penggarap. Hasilnya dibagi menurut kesepakatan bersama, dimana benih tanaman dari si pemilik tanah.

Sedangkan Mukhabarah, adalah kerjasama antara pemilik lahan dengan penggarap, dan untuk benihnya cukup mahal, seperti cengkeh, pala, vanili, dan lain-lain. Namun, tidak menutup kemungkinan pada tanaman yang benihnya relatif murah, dilakukan kerjasama mukhabarah.

Terdapat beberapa rukun, Muzara’ah dan Mukhibarah, yaitu:

  1. Pemilik tanah
  2. Petani penggarap
  3. Objek al-muzaraah
  4. Shighat

Persamaan dan Perbedaan Muzara’ah, dan Mukhabarah

Persamaan dari Muzara’ah, dan Mukhabarah, adalah kedua-duanya merupakan aqad (perjanjian). Perbedaannya, di dalam Muzara’ah, tanaman di tanah belum ada, tanahnya harus digarap oleh penggarapnya, namun benihnya dari petani (orang yang menggarap).

Sedangkan di dalam Mukhabarah, tanaman di tanah belum ada, tanahnya masih harus digarap oleh penggarapnya, namun benihnya dari pemilik tanah. Jadi, bisa disimpulkan, bahwa Muzara’ah, dan Mukhabarah, lebih ke suatu akad kerja sama yang dilakukan antara dua orang atau lebih.

Perjanjian ini, lebih ke pengelolaan pertanian antara pemilik lahan dan si penggarap. Kita ketahui, bahwa fiqih, cukup kompleks dalam membahas setiap setiap pekerjaan mukallaf, termasuk mengatur tentang kerja sama ekonomi dalam Islam.

Terkait  Ide Takjil Ngabuburit di dalam Rumah!

Prinsip Bagi Hasil Al Muzaraah dan Al Mukharabah

Kita ketahui, bahwa manusia sendiri adalah makhluk Allah, yang mana memang disetting sebagai makhluk sosial, dan tidak bisa hidup tanpa orang lain. Manusia sendiri, dituntut untuk bekerja dan memenuhi kebutuhan, salah satunya bisa kita lihat dalam hal bertani.

Ingat, tidak semua petani memiliki lahan sendiri, petani bisa melakukan kerja sama dengan pemilik lahan, dimana pemilik lahan tidak punya waktu dan keahlian dalam mengolah lahan. Petani yang tidak memiliki lahan, bisa memanfaatkan waktu dan skill-nya untuk mengolah lahan.

Hal ini, memunculkan kesepakatan bersama (perjanjian) dan bagi hasil antara pemilik lahan dan petani. Bagi hasil ini, diharapkan membawa keuntungan masing-masing, dan sekaligus mempererat persaudaraan yang ada. Dari sini, muncul rasa saling tolong menolong juga.

Hikmah Muzara’ah, dan Mukhabarah

Hikmah dari Muzara’ah, adalah:

  1. Terwujudnya kerja sama yang saling menguntungkan antara pemilik tanah dengan petani penggarap.
  2. Kesejahteraan masyarakat jadi meningkat.
  3. Kemiskinan teratasi.
  4. Terbukanya lapangan kerja, terutama bagi petani yang memiliki kemampuan dalam bertani, dan posisi tidak memiliki tanah garapan.

Hikmah dari Mukhabarah, adalah:

  1. Terwujudnya kerja sama yang saling menguntungkan antara pemilik tanah dengan petani penggarap.
  2. Kesejahteraan masyarakat jadi meningkat.
  3. Teratasinya kemiskinan.
  4. Terbukanya lapangan kerja, terutama bagi petani yang tidak memiliki tanah garapan, tetapi mempunyai skill untuk mengolah lahan.

Secara terminologi asing, bagi hasil lebih dikenal sebagai profit sharring. Profit sharring dalam kamus ekonomi, diartikan sebagai pembagian laba. Secara umum, prinsip bagi hasil dalam ekonomi syariah, bisa dilakukan dalam empat akad utama, yaitu Al Musyarakah, Al Mudharabah, Al Muzaraah, dan Al Musaqah.

Jadi, sudah paham tidak? mengenai Al Muzaraah, dan Al-Mukhabarah?

Terkait  Kisah Empati Rasulullah yang Perlu Dijadikan Teladan