Sunah Jamaah Haji Setelah Sholat Idul Adha

Sunah Jamaah Haji Setelah Sholat Idul Adha

Mei 28, 2026 0 By Cahya Cantika

Setelah semangat membara saat sholat Idul Adha, para jamaah haji di Tanah Suci tentu merasakan haru dan lega. Tapi, jangan salah sangka! Perjalanan ibadah haji itu belum selesai, lho. Justru setelah sholat Idul Adha, ada beberapa rangkaian amalan penting yang perlu dituntaskan, baik yang wajib maupun sunah. Amalan-amalan utama setelah sholat Idul Adha bagi jamaah haji meliputi melempar jumrah Aqabah, menyembelih hadyu (bagi yang berhak), tahallul awal (mencukur rambut), Tawaf Ifadah, dan Sa’i. Kemudian berlanjut dengan mabit dan rami jumrah selama hari Tasyrik, serta takbir Tasyrik yang tak boleh ketinggalan. Nah, yuk kita intip lebih dalam apa saja sih yang perlu dilakukan para tamu Allah di momen krusial ini!

Momen Krusial di Hari Raya Kurban: 10 Dzulhijjah

Begitu sholat Idul Adha selesai ditunaikan, khususnya di tanggal 10 Dzulhijjah, jadwal para jamaah haji langsung padat merayap. Ini dia beberapa amalan yang jadi prioritas:

1. Melempar Jumrah Aqabah (Rami Jumrah Kubra)

Setelah sholat Idul Adha, biasanya para jamaah haji akan berbondong-bondong menuju Jumrah Aqabah di Mina untuk melakukan lempar jumrah. Ini adalah ritual melempar batu kerikil ke tiang jumrah Aqabah sebagai simbol perlawanan terhadap godaan setan. Jumlahnya tujuh kerikil, dan dilakukan dengan niat yang tulus. Ini adalah salah satu wajib haji yang harus ditunaikan, lho!

2. Menyembelih Hadyu (bagi yang Berkewajiban)

Bagi jamaah haji yang menunaikan haji Tamattu’ atau Qiran, ada kewajiban menyembelih hewan kurban atau yang biasa disebut hadyu. Proses ini bisa dilakukan setelah melempar jumrah Aqabah. Sekarang ini, banyak jamaah yang menyerahkan pelaksanaannya kepada pihak yang berwenang agar lebih praktis dan sesuai syariat. Jadi, jangan khawatir kalau nggak bisa menyembelih sendiri, yang penting niat dan pembayarannya sudah beres.

3. Tahallul Awal: Leganya Bebas dari Beberapa Larangan Ihram

Setelah melempar jumrah Aqabah dan menyembelih hadyu (bagi yang wajib), saatnya tahallul awal! Ini adalah momen cukur rambut, minimal sebagian atau kalau laki-laki, lebih afdal gundul. Dengan tahallul awal ini, sebagian besar larangan ihram sudah boleh dilakukan, kecuali berhubungan suami istri. Wah, rasanya plong banget, ya!

Terkait  Keutamaan Hari Tasyrik

Amalan Lanjutan Setelah Tahallul Awal: Kembali ke Makkah

Setelah tahallul awal dan sedikit “ringan” dari larangan ihram, perjalanan ibadah haji masih berlanjut. Kebanyakan jamaah akan kembali ke Makkah untuk menuntaskan rukun haji yang tak kalah penting.

1. Tawaf Ifadah: Rukun Haji yang Tak Boleh Dilewatkan

Nah, ini dia salah satu rukun haji yang paling fundamental. Tawaf Ifadah adalah tawaf yang dilakukan setelah pulang dari Mina atau setelah tahallul awal. Waktunya memang fleksibel, bisa di tanggal 10 Dzulhijjah setelah semua proses di Mina selesai, atau selama Hari Tasyrik. Tawaf ini mirip dengan Tawaf Qudum (tawaf kedatangan) tapi statusnya rukun, artinya jika tidak dilakukan, haji seseorang tidak sah. Jadi, pastikan ini tidak terlewat, ya!

2. Sa’i: Berlari Kecil Antara Safa dan Marwah

Setelah Tawaf Ifadah, biasanya dilanjutkan dengan Sa’i, yaitu berjalan dan berlari-lari kecil tujuh kali putaran antara bukit Safa dan Marwah. Bagi yang sudah melakukan Sa’i setelah Tawaf Qudum (bagi haji Ifrad atau Qiran), mungkin tidak perlu mengulang. Tapi bagi haji Tamattu’ atau yang belum Sa’i, ini adalah wajib haji yang harus ditunaikan.

3. Tahallul Tsani: Bebas Sepenuhnya dari Larangan Ihram

Setelah Tawaf Ifadah dan Sa’i (bagi yang wajib), barulah seorang jamaah haji mengalami tahallul tsani. Di titik ini, semua larangan ihram sudah dicabut, termasuk berhubungan suami istri. Artinya, rangkaian ihram sudah tuntas dan kita bisa menjalani kehidupan normal lagi, tentunya dengan hati yang lebih bersih dan jiwa yang lebih tenang.

Amalan Sunah dan Wajib di Hari-hari Tasyrik (11, 12, 13 Dzulhijjah)

Setelah tanggal 10 Dzulhijjah, ada tiga hari istimewa yang disebut Hari Tasyrik. Ini adalah hari-hari makan dan minum, hari-hari bersenang-senang (dalam arti yang baik, ya!), dan pastinya, hari-hari beribadah. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Hari-hari Tasyrik adalah hari makan, minum, dan berzikir kepada Allah.” (HR Muslim).

1. Mabit di Mina: Menginap di Lembah Doa

Pada malam tanggal 11, 12, dan bagi yang mengambil nafar tsani (pulang belakangan), juga malam tanggal 13 Dzulhijjah, jamaah haji wajib bermalam atau mabit di Mina. Momen ini sering digunakan untuk muhasabah, zikir, dan mempererat tali silaturahmi antar jamaah. Pengalaman menginap di tenda-tenda Mina ini punya kesan tersendiri yang tak terlupakan.

Terkait  Pengertian Hari Tarwiyah

2. Melempar Tiga Jumrah

Selama hari Tasyrik, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah, setiap harinya jamaah haji akan kembali ke Jamarat untuk melempar tiga jumrah secara berurutan: Jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah. Masing-masing dilempar tujuh kerikil. Ini adalah penutup dari ritual rami jumrah dan wajib hukumnya bagi para tamu Allah.

3. Menggaungkan Takbir Tasyrik

Nah, ini dia sunah yang sering kita dengar. Takbir Tasyrik itu adalah menggaungkan lafaz takbir, tahmid, dan tahlil yang dimulai dari sholat Subuh tanggal 9 Dzulhijjah (Hari Arafah) sampai sholat Ashar tanggal 13 Dzulhijjah (akhir Hari Tasyrik). Jadi, setelah sholat Idul Adha pun takbir ini tetap dilanjutkan hingga hari-hari Tasyrik berakhir. Yuk, ramaikan suasana dengan takbir!

Untuk memahami lebih lanjut tentang keistimewaan hari-hari tersebut, Anda bisa membaca artikel kami tentang keutamaan hari Tasyrik. Dijamin bakal bikin kamu makin semangat beribadah di momen-momen istimewa ini!

Menjelang Akhir Perjalanan: Tawaf Wada’

Setelah semua rangkaian haji selesai, termasuk mabit dan rami jumrah di Hari Tasyrik, para jamaah akan bersiap pulang. Sebelum meninggalkan Makkah, ada satu tawaf lagi yang harus dilakukan, yaitu Tawaf Wada’ atau Tawaf Perpisahan. Ini adalah tawaf perpisahan dengan Ka’bah yang bersifat wajib bagi setiap jamaah yang akan meninggalkan Makkah, kecuali bagi wanita yang sedang haid. Dengan Tawaf Wada’, resmilah semua rangkaian ibadah haji Anda.

FAQ Seputar Amalan Setelah Sholat Idul Adha bagi Haji

Q: Apa yang harus saya lakukan pertama kali setelah sholat Idul Adha di Tanah Suci?

A: Setelah sholat Idul Adha di Tanah Suci, prioritas utama adalah menuju ke Jamarat untuk melempar Jumrah Aqabah, dilanjutkan dengan menyembelih hadyu (jika berkewajiban), dan tahallul awal (cukur rambut).

Terkait  Contoh Khotbah Idul Adha Bahasa Sunda

Q: Kapan saya boleh melepas pakaian ihram setelah sholat Idul Adha?

A: Anda boleh melepas pakaian ihram setelah melakukan tahallul awal, yaitu setelah melempar Jumrah Aqabah dan mencukur rambut. Pada tahallul awal, sebagian besar larangan ihram sudah gugur, kecuali larangan berhubungan suami istri.

Q: Apakah Tawaf Ifadah harus dilakukan langsung setelah Idul Adha?

A: Tawaf Ifadah bisa dilakukan pada tanggal 10 Dzulhijjah setelah semua ritual di Mina selesai (rami, hadyu, tahallul awal), atau bisa juga ditunda hingga hari-hari Tasyrik (11, 12, 13 Dzulhijjah). Yang penting, jangan sampai terlewat karena ini adalah rukun haji.

Q: Apa saja larangan yang masih berlaku setelah tahallul awal?

A: Setelah tahallul awal, satu-satunya larangan ihram yang masih berlaku adalah berhubungan suami istri. Semua larangan lain seperti memakai pakaian berjahit, memotong kuku, memakai wewangian, dan lain-lain sudah diperbolehkan.

Q: Mengapa hari Tasyrik penting bagi jamaah haji?

A: Hari Tasyrik (11, 12, 13 Dzulhijjah) sangat penting karena pada hari-hari ini jamaah wajib mabit (bermalam) di Mina dan melempar ketiga jumrah setiap harinya. Selain itu, hari Tasyrik adalah hari untuk makan, minum, dan berzikir, yang merupakan sunnah Rasulullah SAW.

Penutup

Sungguh, perjalanan haji itu adalah rangkaian ibadah yang luar biasa, penuh makna, dan butuh kesabaran ekstra. Setelah sholat Idul Adha, bukan berarti tugas selesai, justru ada puncak-puncak ibadah yang menunggu. Semoga setiap langkah para jamaah haji dilancarkan, diterima amalannya, dan pulang membawa haji mabrur. Aamiin ya Rabbal Alamin!