Amalan yang Tidak Disunahkan di Bulan Muharram

Amalan yang Tidak Disunahkan di Bulan Muharram

Juni 22, 2026 0 By Cahya Cantika

Bulan Muharram, sebagai awal tahun Hijriah yang penuh makna, seringkali diwarnai dengan berbagai amalan yang diyakini memiliki keutamaan besar. Namun, tidak semua praktik yang populer di masyarakat memiliki dasar yang kuat dalam sunah Nabi Muhammad SAW. Artikel ini akan mengupas tuntas amalan-amalan yang sering salah kaprah dianggap sunah di bulan Muharram, membantu umat Islam untuk beribadah sesuai tuntunan syariat yang sahih dan membedakan antara tradisi lokal dengan ajaran agama yang otentik. Memahami perbedaan ini adalah langkah krusial untuk menjaga kemurnian ibadah kita.

Mengapa Penting Memahami Amalan yang Bukan Sunah?

Dalam Islam, setiap ibadah haruslah memiliki dalil (dasar hukum) yang jelas, baik dari Al-Qur’an maupun As-Sunah. Amalan yang dilakukan tanpa dalil, atau yang bertentangan dengan dalil syariat, dapat tergolong sebagai bid’ah. Melakukan bid’ah, meskipun niatnya baik, dapat berujung pada penyimpangan dan justru menjauhkan dari ridha Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalan itu tertolak.” (HR. Muslim). Oleh karena itu, memastikan bahwa amalan kita di bulan Muharram didasari oleh sunah Nabi adalah bentuk kehati-hatian dan kecintaan kita kepada agama.

Amalan Populer di Bulan Muharram yang Perlu Diklarifikasi

Banyak sekali praktik yang beredar di masyarakat saat Muharram tiba, seolah-olah merupakan bagian dari sunah yang dianjurkan. Berikut adalah beberapa di antaranya yang perlu kita luruskan pemahamannya:

1. Perayaan Tahun Baru Islam secara Berlebihan

Meskipun hijrah Nabi Muhammad SAW adalah peristiwa historis yang sangat penting dan patut dikenang, tidak ada dalil syar’i yang menganjurkan perayaan tahun baru Islam (1 Muharram) dengan bentuk-bentuk ritual khusus, karnaval, atau acara-acara meriah yang dikhususkan. Rasa syukur dan mengingat peristiwa hijrah bisa diwujudkan dengan meningkatkan ketakwaan, intropeksi diri, dan memperbanyak amal saleh secara umum, bukan dengan perayaan massal yang mengkhususkan tanggal tersebut.

2. Mengkhususkan Sedekah atau Santunan Anak Yatim pada Tanggal Tertentu

Sedekah dan menyantuni anak yatim adalah amalan yang sangat mulia dan dianjurkan kapan saja, sepanjang tahun. Namun, mengkhususkan bersedekah atau menyantuni anak yatim hanya pada tanggal 10 Muharram (Hari Asyura) dengan keyakinan bahwa ada keutamaan khusus yang disunahkan Nabi pada hari itu tanpa dalil yang kuat adalah kekeliruan. Dalil-dalil mengenai keutamaan sedekah bersifat umum, tidak mengkhususkan waktu tertentu di Muharram selain puasa.

3. Mandi Besar (Ghusal) pada Hari Asyura

Sebagian masyarakat meyakini adanya keutamaan mandi besar atau ghusal pada Hari Asyura (10 Muharram) untuk membersihkan dosa atau mendapatkan keberkahan. Keyakinan ini tidak memiliki dasar yang sahih dari sunah Nabi Muhammad SAW. Hadis-hadis yang menyebutkan keutamaan mandi pada hari Asyura telah dinyatakan sebagai hadis palsu atau sangat lemah oleh para ulama ahli hadis, seperti Imam An-Nawawi dan Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. Mandi yang disunahkan hanya pada kondisi-kondisi tertentu, seperti mandi junub, mandi Jumat, atau mandi hari raya Idulfitri dan Iduladha.

Terkait  Komunitas Muslim di Bali, Berawal dari Kampung Islam

4. Memakai Celak Mata (Ismid) pada Hari Asyura

Sama seperti mandi khusus, praktik memakai celak mata (ismid) pada Hari Asyura juga populer di beberapa kalangan, dengan keyakinan dapat menjaga kesehatan mata atau sebagai amalan sunah. Namun, hadis-hadis yang menganjurkan pemakaian celak pada hari Asyura juga termasuk hadis yang palsu atau sangat lemah. Para ulama telah memperingatkan agar tidak mengamalkan hal ini karena tidak bersumber dari ajaran Nabi.

5. Memasak Makanan atau Bubur Khusus (Bubur Asyura) untuk Dijamu

Tradisi memasak bubur atau hidangan khusus lainnya pada Hari Asyura dan kemudian membagikannya kepada tetangga atau fakir miskin adalah kebiasaan yang lazim di banyak daerah. Meskipun tindakan berbagi makanan adalah perbuatan baik, mengaitkan tradisi ini dengan sunah Nabi Muhammad SAW atau meyakini adanya keutamaan khusus dari jenis makanan tersebut pada Hari Asyura adalah tidak tepat. Ini lebih merupakan tradisi lokal dan budaya, bukan bagian dari syariat Islam. Tindakan ini bisa saja menjadi bid’ah jika diyakini sebagai ibadah yang disunahkan pada hari tersebut.

6. Mengkhususkan Ziarah Kubur atau Doa Bersama pada Hari Tertentu

Ziarah kubur adalah amalan yang disyariatkan dalam Islam dengan tujuan mengingat mati dan mendoakan ahli kubur. Namun, mengkhususkan waktu ziarah kubur atau mengadakan doa bersama di kuburan secara berjamaah pada tanggal-tanggal tertentu di bulan Muharram, seperti tanggal 10 Muharram, tanpa adanya dalil khusus adalah tindakan yang perlu dihindari. Ziarah kubur bisa dilakukan kapan saja, dan tidak ada keutamaan khusus yang disebutkan untuk bulan Muharram.

7. Keyakinan tentang Keutamaan Khusus pada Malam Pertama Muharram (Kecuali Puasa)

Selain puasa Tasu’a (9 Muharram) dan Asyura (10 Muharram) yang jelas disunahkan, tidak ada amalan khusus lain seperti shalat malam tertentu, membaca zikir tertentu secara berjamaah, atau ritual ibadah lainnya yang memiliki keutamaan khusus di malam pertama Muharram atau sepanjang malam-malam lainnya di bulan ini. Beribadah di waktu kapan pun adalah baik, namun mengkhususkan tanpa dalil adalah bid’ah.

Terkait  Hati-Hati, 7 Kesalahan Kecil Ini Bikin Usahamu Sulit Naik Kelas

Memahami batasan dalam beribadah juga serupa dengan mengidentifikasi kesalahan kecil yang bisa menghambat kemajuan, dalam konteks agama, ini adalah kemajuan spiritual. Fokuslah pada amalan yang telah jelas tuntunannya agar ibadah kita diterima.

Apa yang Seharusnya Kita Amalkan di Bulan Muharram?

Setelah mengidentifikasi amalan yang tidak disunahkan, penting untuk mengetahui apa saja yang disunahkan Nabi Muhammad SAW di bulan Muharram. Secara khusus, ada satu amalan utama:

Puasa Tasu’a (9 Muharram) dan Asyura (10 Muharram)

Inilah amalan yang paling sahih dan sangat dianjurkan di bulan Muharram. Rasulullah SAW bersabda, “Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa di bulan Allah (Muharram).” (HR. Muslim). Beliau juga sangat menganjurkan puasa pada hari Asyura (10 Muharram) yang dapat menghapus dosa setahun yang lalu. Untuk membedakan dari puasa kaum Yahudi, Rasulullah juga menganjurkan puasa pada hari Tasu’a (9 Muharram). Kedua puasa ini adalah amalan yang memiliki dasar dalil yang kuat.

Amalan Saleh Umum yang Ditingkatkan

Selain puasa, Muharram adalah waktu yang baik untuk meningkatkan seluruh amal saleh secara umum, seperti:

  • Memperbanyak Dzikir dan Doa: Meningkatkan manfaat dzikir petang atau kapan pun, serta memperbanyak doa adalah amalan yang senantiasa dianjurkan dan tidak terikat bulan tertentu.
  • Membaca Al-Qur’an: Menambah porsi membaca dan mentadabburi Al-Qur’an.
  • Bertaubat dan Beristighfar: Mengawali tahun baru Hijriah dengan membersihkan diri dari dosa dan memohon ampunan Allah.
  • Bersedekah: Bersedekah kapan saja adalah amalan yang mulia, tidak perlu mengkhususkan waktu tertentu di Muharram.

Tabel Perbandingan: Amalan di Bulan Muharram

Amalan yang Sering Disalahpahami (Bukan Sunah) Amalan yang Disunahkan
Perayaan Tahun Baru Islam Berlebihan (ritual khusus) Puasa Tasu’a (9 Muharram)
Mandi Besar Khusus Hari Asyura Puasa Asyura (10 Muharram)
Memakai Celak Khusus Hari Asyura Memperbanyak Amalan Saleh Umum (sedekah, dzikir, doa, taubat)
Memasak Bubur Asyura dengan Keyakinan Sunah Meningkatkan Ketakwaan dan Intropeksi Diri
Mengkhususkan Ziarah Kubur/Doa Bersama di Muharram

Studi Kasus: Bagaimana Tradisi Mengakar?

Fenomena amalan yang bukan sunah namun populer di bulan Muharram seringkali berakar dari tradisi turun-temurun yang kuat di masyarakat. Sebagai contoh, di beberapa wilayah, tradisi membuat ‘Bubur Asyura’ bukan hanya sekadar berbagi makanan, melainkan telah menjadi ritual yang diyakini memiliki nilai ibadah khusus dan dianggap sunah. Keyakinan ini diperkuat dari generasi ke generasi, sehingga menjadi sulit untuk membedakan antara budaya dan ajaran agama yang sesungguhnya. Edukasi yang terus-menerus dan penyampaian dalil yang sahih dari para ulama sangat diperlukan untuk meluruskan pemahaman ini.

Terkait  Mengenal Sejarah dan Kisah Nuzulul Qur'an

FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)

Q: Apakah boleh mengadakan acara syukuran atau doa bersama di awal Muharram?

A: Mengadakan acara syukuran atau doa bersama secara umum adalah boleh sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah atau untuk menjalin silaturahmi. Namun, tidak ada dalil yang menjadikannya sebagai sunah khusus atau memiliki keutamaan tertentu di tanggal 1 Muharram. Jika diyakini sebagai ibadah yang disunahkan pada tanggal tersebut, maka ini bisa tergolong bid’ah. Lakukanlah dengan niat syukur umum, bukan karena mengkhususkan tanggal tersebut sebagai hari yang disunahkan untuk acara.

Q: Apakah ada doa khusus di malam 1 Muharram?

A: Tidak ada doa khusus yang disunahkan Nabi Muhammad SAW untuk dibaca di malam 1 Muharram. Berdoa kapan saja adalah baik dan dianjurkan, namun mengkhususkan doa tertentu dengan format atau jumlah tertentu di malam 1 Muharram tanpa dalil adalah tidak sesuai sunah.

Q: Bagaimana hukumnya jika sudah terlanjur melakukan amalan yang bukan sunah ini?

A: Jika dilakukan karena ketidaktahuan, maka tidak ada dosa. Namun, setelah mengetahui bahwa amalan tersebut tidak memiliki dasar sunah, seorang Muslim wajib meninggalkannya dan fokus pada amalan yang sesuai dengan tuntunan syariat. Allah SWT Maha Pengampun dan Maha Penerima Taubat. Niatkan untuk beramal hanya berdasarkan apa yang dicontohkan Rasulullah SAW.

Kesimpulan

Bulan Muharram adalah bulan yang agung, yang di dalamnya terdapat keutamaan puasa Tasu’a dan Asyura. Umat Islam hendaknya fokus pada amalan yang telah jelas tuntunannya dari Al-Qur’an dan As-Sunah. Menjauhkan diri dari praktik yang tidak memiliki dasar syar’i adalah bentuk ketaatan dan menjaga kemurnian ajaran Islam. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita untuk beribadah sesuai tuntunan-Nya.