Berikut, adalah Lembaga Sertifikasi Halal yang ada di Dunia. Mau Tahu?

Berikut, adalah Lembaga Sertifikasi Halal yang ada di Dunia. Mau Tahu?

Oktober 26, 2022 0 By Yuliarti Selli

Halal, adalah suatu hukum yang diterapkan Islam, dalam memisahkan, mana yang diperbolehkan dan tidak. Halal, menjadi pedoman hidup bagi umat Islam yang benar. Sekarang, label halal tidak hanya diikuti oleh masyarakat muslim saja, tetapi juga masyarakat umum juga.

Dalam produk makanan maupun produk tertentu, terdapat labelisasi halal, agar penggunanya maupun konsumennya tahu mana yang halal dan tidak. Hal tersebut, dinamakan dengan sertifikasi halal dari lembaga atau instansi yang telah terverifikasi atau berhak dalam memberi label halal.

Berikut adalah lembaga sertifikasi halal yang ada di Indonesia, diantaranya:

1. Majelis Ugama Islam Singapura (MUIS)

Majelis Ugama Islam Singapura (MUIS), merupakan lembaga hukum yang ada di Singapura, yang mana tugasnya untuk mengurus administrasi maupun kepentingan masyarakat muslim di wilayah tersebut. Tahun berdiri mulai 1968, dengan salah satu tugasnya menerbitkan sertifikat halal produk di Singapura.

Selain pelabelan produk halal, juga sebagai tempat dalam perhitungan fidyah dan zakat, pengelolaan wakaf, sertifikasi halal, serta beragam info yang terkait dengan papan banding. Adanya pendidikan Islam, dan fatwa khutbah nasehat agama.

Skema sertifikasi halal dari berbagai sektor, diterapkan oleh MUIS dalam beberapa bagian, diantaranya:

  1. Skema tempat makan halal
  2. Skema barang atau jasa pendukung
  3. Skema area persiapan makanan
  4. Skema tempat pemotongan hewan
  5. Skema produk yang diproduksi di Singapura
  6. Skema fasilitas penyimpanan
  7. Skema manufaktur dan seluruh hasil produksinya

2. Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM)

JAKIM, adalah lembaga yang menangani administrasi urusan agama Islam di Malaysia. JAKIM, di bawah perdana menteri Malaysia dan berhak dalam memberi nama Lembaga Sertifikasi Halal dengan nama “Divisi Poros Halal” (Halal Hub Division).

Lembaga ini, sudah ada sejak tahun 1971, dengan tugas melakukan kerja sama dengan Lembaga Sertifikasi Halal di berbagai negara untuk memastikan kehalalan yang diimpor ke Malaysia. Contoh standar sertifikasi makanan halal yang ditetapkan oleh JAKIM, yaitu

  1. Tidak mengandung bahan yang diharamkan, serta melewati proses penyembelihan yang sesuai dengan syariat islam (bagi produk daging).
  2. Tidak mengandung najis yang diharamkan.
  3. Makanan yang sehat, baik, serta tidak membahayakan konsumen.
  4. Tidak menggunakan alat yang najis dalam mempersiapkan produk makanan
  5. Tidak mengandung organ manusia serta turunannya yang diharamkan dalam syariat Islam.
  6. Dalam proses produksi hingga distribusi, produk makanan halal harus dipisahkan dengan berbagai produk yang menyalahi standar syariat Islam sesuai poin di atas.

3. Muslim Professional Japan Association (MPJA)

Muslim Professional Japan Association (MPJA) merupakan salah satu lembaga sertifikasi halal terkemuka di Jepang. Berdiri sejak tahun 2013 di Shinjuku, Jepang. Tujuan lembaga adalah menyebarkan kesadaran akan produk halal pada masyarakat Jepang serta menjamin keabsahan dan akurasi sertifikasi halal.

Keabsahan tersebut, berdasarkan standar internasional. Standar yang ditentukan sejalan dengan standarisasi halal JAKIM Malaysia dan MUI Indonesia. Terdapat beberapa langkah dalam mengajukan sertifikasi halal, yaitu Pengajuan sertifikasi halal, Proses evaluasi, Kesepakatan dan kutipan, Audit situs, dan Evaluasi panitia fatwa.

Untuk pengajuan sertifikasi halal bagi restoran dan manufaktur, diperlukan standar dan proses yang lebih banyak. MPJA, sudah menjadi bagian dari World Halal Food Council (WHFC) sejak tahun 2015, mewakili 46 Lembaga Sertifikasi Halal termasuk dari Asia, Australia, New Zealand, Amerika, dan Eropa.

4. Halal Quality Control (HQC)

Halal Quality Control (HQC), merupakan lembaga sertifikasi halal yang independen, dan berpusat di Jerman dengan memiliki lebih dari 6 cabang di seluruh dunia. Lembaga ini, sudah diakui lebih dari 53 negara. HQC didirikan di Belanda tahun 1983, dan dijadikan lembaga sertifikasi halal tertua di Eropa.

HQC menerapkan banyak sumber regulasi yang berkaitan dengan kepatuhan sertifikasi, penyembelihan dan pengelolaan daging, hingga produksi halal (bahan dan lain-lain). Proses sertifikasinya, dijalankan dengan tata cara berikut: 1) Formulir aplikasi; 2) Kutipan; 3) Formasi kontak; 4) Audit dokumentasi; 5) Audit di tempat; 6) Keputusan HQC; 7) Penerbitan sertifikasi halal.

Masih banyak lembaga sertifikasi halal yang ada di dunia, dengan aturan terbit sesuai ketentuan maupun standar di negara masing-masing. Lembaga-lembaga sertifikasi halal semakin banyak di dunia, mengingat permintaan produk halal yang meningkat pada masing-masing negara.

Hal ini, juga berpengaruh pada updatean info mengenai lembaga halal yang ada di dunia dan sudah tersertifikasi.