Mengenal 4 Metode Penentuan Awal Ramadan

Mengenal 4 Metode Penentuan Awal Ramadan

April 7, 2022 0 By cahaya

Di tengah suka cita menyambut datangnya bulan suci terkadang ada perbedaan dalam penentuan awal ramadan. Bulan ramadan adalah bulan yang paling ditunggu bagi umat muslim. Di bulan ini dijadikan sebagai bulan yang penuh ampunan dan momen untuk meningkatkan ibadah kita.

Adanya perbedaan tersebut terkadang menimbulkan konflik ditengah masyarakat. Karena banyak yang beranggapan bahwa kelompoknya lah yang paling benar dan kelompok yang lain salah.

Oleh karena itu kementrian Agama yang merupakan lembaga yang memiliki otoritas dalam penentuan awal puasa ini berusaha keras untuk meminimalkan konflik tersebut.

Melalui Kementrian Agama ini, penentuan 1 Ramadan dilakukan dengan menggelar sidang itsbat. Sidang tersebut diwakili oleh para ulama, ilmuwan, pakar hisab-rukyat serta perwakilan dari organisasi masa di Indonesia.

Namun adapula yang tidak mengikuti sidang itsbat tersebut. Hal ini dikarenakan mereka sudah memiliki metode penetapan sendiri. Sehingga penting bagi masyarakat agar bisa mengetahui metode-metode yang digunakan untuk menentukan awal Ramadan oleh para ulama.

Kriteria Penentuan Awal Ramadan

Di Indonesia dalam menentukan awal ramadan ini memiliki beberapa kriteria yaitu :

Imkanur Rukyat (Visibilits Hilal)

Imkanur Rukyat ini yaitu dengan mempertimbangkan kemungkinan terlihatnya hilal. Dalam menggunakan kriteria ini maka hilal harus berada minimal 2 derajat diatas ufuk, jadi akan memungkinkan kita untuk melihatnya.

4 metode penentuan awal ramadan

Namun keberadaan hilal tersebut belum teranggap hingga hilal tersebut bisa dilihat dengan mata. Untuk yang menggunakan kriteria ini yaitu NU yang mendukung proses pelaksanaan rukyat yang berkualitas.

Wujudul Hilal

Kriteria wujudul hilal ini merupakan penentuan awal bulan ramadan dengan memakai dua prinsip. Prinsip tersebut adalah Ijtimak telah terjadi sebelum matahari terbenam serta bulan terbenam sesudah matahari terbenam.

Apabila kedua kriteria diatas sudah terpenuhi maka untuk petang harinya bisa dikatakan sebagai awal bulan. Untuk kriteria seperti ini banyak dipakai oleh Muhammadiyah.

Imkanur Rukyat MABIMS

Kriteria ini adalah untuk menentukan awal bulan ramadan yang berdasarkan pada Musyawarah menteri-menteri agama diantaranya yaitu menteri agama Brunei Darusaalam, Indonesia, Malaysia serta Singapura (MABIMS).

Kriteria ini menyatakan bahwa untuk awal ramadan ada pada saat matahari terbenam, ketinggian bulan diatas horison serta tidak kurang dari 2 derajat. Kemudian untuk jarak lengkung Bulan-Matahari tidak kurang dari 3 derajat. Lalu saat terbenam usia bulan tak kurang dari 8 jam setelah ijtimak.

Rukyat Global

Selanjutnya terdapat juga kriteria Rukyat Global yang menentukan awal ramadan dengan menganut prinsip ssat satu penduduk melihat hilal maka untuk penduduk yang ada diseluruh negeri berpuasa.

Adapun yang menggunakan kriteria ini adalah sebagian muslim Indoneisa yang merujuk langsung pada Negara Arab Saudi atau dengan menggunakan hasil terlihatnya hilal yang berasal dari negara lain.

Jadi dengan terdapatnya beragam kriteria tersebut dalam penentuan awal ramadan maka tak heran jika banyak perbedaan dalam memulai puasa ramadannya.

Namun meskipun berbeda sangat penting bagi kita untuk berusaha menyatukan perbedaan yang ada. Hal ini dikarenakan di bulan Ramadan dan Idulfitri bulan syawal ini adalah momen untuk syiar Islam dan momen untuk kebahagiaan bersama.

Sehingga pemerintah dalam hal ini melalui Kemenag memiliki peranan yang penting dalam menyikapi perbedaan yang ada. Diantaranya dengan menggelar sidang itsbat awal Ramadan. Sidang Itsbat tersebut didasarkan pada rukyat dan hisab yang digunakan sebagai pendukung.

Dan untuk keputusan itsbat yang sudah ditetapkan bersifat mengikat dan ini berlaku secara nasional. Tentunya disini juga harus mengedepankan prinsip toleransi. Karena dengan menjaga persatuan dan kesatuan maka kita juga sudah melaksanakan perintah Allah yang wajib diilakukan.