Sejarah Dinar dan Dirham. Bagaimana Perjalanannya?

Sejarah Dinar dan Dirham. Bagaimana Perjalanannya?

Desember 15, 2022 0 By Yuliarti Selli

Dinar dan Dirham, sudah ada pada zaman awal perkembangan Islam. Sampai-sampai, 2 dianggap sebagai mata uang Islam. Uang Dinar sendiri, digunakan di Semenanjung Arab, dan uang Dirham dianggap dari bahan logam mulia. Kerap kali diidentikkan dengan alat tukar Islam awal.

Padahal, belum tentu adanya, dan adanya dua mata uang ini masih dipertanyakan munculnya dimana dan belum tentu di Timur Tengah. Sebelum kita berucap, lebih baik kita langsung saja mengetahui sejarah dari mata uang Dinar dan Dirham itu sendiri.

Sejarah Berkata

Dinar sendiri, adalah nama satuan moneter yang sampai saat ini digunakan di beberapa negara Arab, mulai dari Tunisia, Aljazair, Irak, Yordania, Libya, Kuwait, dan Bahrain. Dinar dan Dirham, mulai diperkenalkan menjadi mata uang Islam semenjak akhir abad ke-7 M oleh Al Malik.

Al Malik, adalah khalifah kelima (685-705) dari Dinasti Umayyah. Sebelum munculnya banyak uang kertas, Dinar dan Dirham digunakan sebagai alat tukar resmi. Nilai mata uang, tentunya berbasis logam mulia, mendekati dari logam mulia sebagai bahan pembuatnya.

Secara hukum Syari’ah, Dinar adalah mata uang emas murni, yang mana memiliki berat 1 mitsqal (setara dengan 1/7 troy ounce) yang berpedoman pada Open Mithqal Standard (OMS). Sedangkan Dirham, memiliki kadar perak murni dengan berat 1/10 troy ounce.

Pengertian OMS

OMS adalah standar dalam menentukan berat dan ukuran Dinar maupun Dirham modern. Standar ini, dikenal juga sebagai standar Nabawi. Alasannya, karena berusaha untuk menduplikasi koin dinar dan dirham yang digunakan di zaman awal perkembangan Islam.

Asal dua mata uang ini, berlaku di masa Romawi dan Persia. Mata uang ini, diadopsi oleh Bangsa Arab pada akhirnya. Dinar berasal dari Bahasa Persia, yaitu denarius. Dalam sudut pandang era perkembangan Islam, dinar memiliki makna filosofis, din (agama) dan nar (neraka).

Terkait  Urutan Bacaan Wirid Selepas Shalat Fardhu

Setelah Dinar dijadikan mata uang resmi oleh Dinasti Umayyah, penggunaan dinar dan dirham diteruskan oleh Dinasti Abbasiyah. Penggunaan mata uang ini, sampai masa Ottoman. Sehingga kenapa lamanya eksistensi mata uang ini, disebut dengan mata uang Islam.

Sejarah Perjalanan Mata Uang Dinar dan Dirham

Irak, menjadi negara pertama yang menjadikan Dinar sebagai mata uang resmi. Satu dinar di sana, dibagi menjadi 20 Dirham. Bank Sentral Irak memiliki otoritas tunggal dalam mengeluarkan uang kertas dan koin di Irak. Uang kertas dikeluarkan dalam denominasi 250 hingga 50.000 dinar.

Di era modern, Dinar dan Dirham tak lagi berstandar logam mulia, tetapi sebagai fiat money alias mata uang keluaran pemerintah. Hal tersebut, tidak didukung komoditas fisik, seperti emas maupun perak. Dinar memiliki nilai intrinsik berupa emas. P

Dengan adanya alat tukar tersebut di masa lalu, membuat nilainya stabil dengan alat tukar lainnya. Tidak adanya istilah atau fenomena inflasi dan deflasi pada masa tersebut. Pada masa kini, nilai seekor kambing masih sama ketika masa Rasulullah SAW, berkisar 1 dinar atau Rp. 2,2 juta.

Fungsi Uang Dirham dan Dinar

Uang atau alat tukar, memiliki fungsi dalam perekonomian, dengan tugas melancarkan pertukaran dan menetapkan nilai wajar dari pertukaran tersebut. Emas bukanlah alat tukar dari bangsa Arab. Transaksi ekonomi bangsa Arab sebelum mengenal emas adalah dengan menggunakan barter.

Emas, dalam konteks ini dinar dan dirham, dan pada masa pemerintahan Imam Ali, dinar dan dirham merupakan satu-satunya mata uang yang digunakan. Hal tersebut karena mata uangnya dinilai memiliki nilai tetap. Sehingga, dalam proses perputaran uang tidak terjadi masalah.

Dinar dan Dirham juga dijadikan untuk menunaikan zakat. Hal tersebut, disepakati oleh ulama dimana emas (dinar dan dirham), sama dengan 20 mitsqal dan telah mencapai satu haul (satu tahun). Bagi perak, dianggap sebagai 200 dirham.

Terkait  Keteguhan Iman Umat Gaza Palestina

Itulah, sejarah perjalanan dari Dinar dan Dirham yang bisa kita pelajari, dan dari sini bisa diambil hikmah bahwa, mata uang zaman dahulu sudah mewah, dan sampai sekarang masih ada, walaupun tidak paten dijadikan mata uang lagi.