Toleransi dan Akidah, Terdapat Batasan-batasan yang harus Dilalui

Toleransi dan Akidah, Terdapat Batasan-batasan yang harus Dilalui

Desember 21, 2022 0 By Yuliarti Selli

Toleransi dalam Islam, pasti berpatok pada Akidah. Tidak semuanya ditolerir, sehingga melupakan adab-adab dalam agama Islam. Mulai dari menghormati agama, kepentingan, dan aspek-aspek penting dalam orang lain. Semua ada aturannya, dan itu tidak dosa selama kita tahu ilmunya.

Toleransi, identik dengan saling menghormati sehingga penghargaan, atau menghargai, juga ada didalamnya. Pastikan, kita berpatok pada agama Islam, selama apa yang kita lakukan. Agar selamat dunia dan akhirat, beserta tali hubungan dengan orang lain, tetap bagus.

Kenali, Arti dari Toleransi

Secara arti, toleransi adalah sikap saling menghormati dan menghargai antar kelompok atau individu masyarakat, di dalam lingkungan (entah secara besar maupun kecil). Sikap toleransi ini, untuk menghindarkan dari terjadinya diskriminasi, walaupun banyak perbedaan yang ada.

Toleransi yang dilarang, lebih ke masalah akidah, yang mana kita dilarang untuk mempertaruhkan atau menukarkan ajaran Islam, hanya untuk mewajarkan atau menoleransi hal yang ada, dan itu bertentangan dengan Islam (tidak boleh).

Lebih jelasnya, bisa kita lihat dalam contoh berikut, turut serta dalam peribadatan agama lain atau mengikuti ajaran lain. Dalam masalah Muamalah Maliyah, umat Islam dapat berinteraksi dengan non muslim selama objek dan akad yang ditransaksikan dibolehkan dalam Islam.

Islam, adalah Agama yang Sangat Toleransi

Jadi jangan takut, untuk memberikan maupun memberikan batasan-batasan pada diri sendiri dan orang lain mengenai akidah yang kamu anut secara agama. Dan jika dilihat, Islam adalah agama yang sangat toleransi, jadi jangan khawatir untuk memberitahukan aksi, karena sudah diperhitungkan di Al-Qur’an.

Hal ini, dapat dilihat dalam hadist dan hadits Rasulullah SAW, di beberapa ayat Al-Qur’an, yaitu:

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ (1) لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ (2) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (3) وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ (4) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (5) لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ (6)

Terkait  Niat Puasa Rajab, Ketahui Hal Ini Berikut!

Katakanlah: “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu, dan untukkulah, agamaku”. (QS. Al-Kafirun: 1-6)

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas yang benar dari jalan yang sesat. Karena itu, barangsiapa yang inkar kepada thagut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang pada buhul tali yang amat kuat dan tidak akan putus. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. ” (al-Baqarah: 256)

Toleransi yang Dicontohkan oleh Rasulullah

Dalam kehidupan sehari-hari Rasulullah zaman dulu, beliau sudah melakukan toleransi yang bisa dibilang sesuai ajaran agama yang ada (Islam). Contohnya, bisa kita lihat dalam Piagam Madinah, dimana beliau siap bekerja sama dengan orang-orang non muslim, untuk saling melindungi.

Saling melindungi di sini, bisa dilihat jika diserang oleh musuh. Toleransi, telah banyak diajarkan oleh Nabi Muhammad kepada umatnya, terutama masyarakat Arab, yang mana menjadi obyek utama dalam proses dakwahnya. Pastinya berada di berbagai suku, dan lingkungan yang masih jahiliyah.

Mulai dari berinteraksi (bergaul) dengan tetangga-tetangga yang berbeda agama (non muslim), Yahudi secara sosial di Madinah. Bahkan, ada suatu kali beliau mengurusi jenazah seorang Yahudi, yang dibawa oleh para kerabatnya untuk dimakamkan.

Sejarah Islam sangat Menoleransi Berbagai Perbedaan Manusia

Dari penjelasan di atas, bisa diambil kesimpulan bahwa agama Islam sangat menolerir perbedaan yang ada, salah satunya termasuk didalamnya saling menghargai. Sikap toleran di sini, tidak ada pemaksaan dalam kehendak pribadi, atas orang lain.

Terkait  Doa Kamilin dalam Salat Tarawih, Seperti Apa Sih?

Hal tersebut dianjurkan dalam bidang kehidupan sesuai firman Allah dalam Al-Qur’an, yaitu:

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

Untukmu agamamu, dan untukku agamaku. (Q.S. al-Kâfirûn: 6)

Ayat Al-Qur’an ini, memberikan interpretasi bahwa toleransi sudah diajarkan secara Islam, jauh-jauh hari, dan kemudian diajarkan dalam Al-Qur’an secara bagus. Dimana, kita harus saling menghargai dan menghormati agama lain selain Islam.

Toleransi ini, tetap ada batasannya, dibuktikan dengan kata-kata tegas yang terkandung dalam ayat tersebut, yaitu sikap saling menghormati dengan berpatok pada batasan-batasan yang diatur oleh agama, yaitu agamamu agamamu dan agamaku agamaku.

Jadi, itulah toleransi dan akidah yang perlu dibersamakan, sehingga dalam pengaplikasiannya bisa seimbang. Walaupun pada awalnya memang, tidak semulus yang dirasa, atau tidak bisa seperfect yang ada di dalam Al-Qur’an. Selama belajar, pasti bisa.