Adab dan Doa Ziarah Kubur

Adab dan Doa Ziarah Kubur

Juni 18, 2023 0 By cahaya

Ziarah kubur adalah suatu amalan yang mendalam dan memiliki makna spiritual yang besar dalam agama Islam. Melalui ziarah kubur ke makam orang tua, umat Muslim memiliki kesempatan untuk menghormati dan mengenang para pendahulu mereka yang telah meninggalkan dunia ini. Selain itu, ziarah kubur ke makam anggota keluarga yang sudah mendahului kita juga dapat menjadi momen introspeksi diri dan pengingat akan kefanaan kehidupan dunia.

Hadits Tentang Ziarah Kubur

Melalui hadits riwayat Buraidah bin Al-Hashib, ia berkata bahwa Nabi SAW bersabda:

إِنِّي كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ القُبُورِ، فَزُْورُوْهَا

Artinya: “Sungguh dahulu aku melarang kamu ziarah kubur, maka ziarahilah ia.” (HR Muslim, Ahmad & Nasa’i)

“Dahulu saya melarang kalian berziarah kubur, tapi (sekarang) berziarahlah kalian, sesungguhnya ziarah kubur dapat melunakkan hati, menitikkan (air) mata, mengingatkan pada akhirat, dan janganlah kalian berkata buruk (pada saat ziarah),” (HR. Hakim)

Ziarah Kubur Menurut Para Ulama

Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi dalam bukunya, Minhajul Muslim, menyampaikan bahwa ziarah kubur merupakan anjuran Rasulullah SAW berdasarkan hadits riwayat Buraidah bin Al-Hashib.

Imam Syamsuddin Al-Qurthubi dalam kitabnya, At-Tadzkirah, menyatakan bahwa ziarah kubur hukumnya sunnah bagi laki-laki menurut kesepakatan ulama. Hukum ziarah kubur bagi perempuan masih menjadi perdebatan. Namun, para wanita tua diperbolehkan untuk berziarah kubur, sehingga ziarah kubur menjadi mubah bagi mereka.

Syaikh Abdurrahman Al-Jaziri dalam kitabnya, Fiqhu al-Madzahib al-Arba’ah, juga menyatakan bahwa ziarah kubur disunnahkan bagi pria. Perempuan tua yang tidak dikhawatirkan dapat menimbulkan fitnah diizinkan untuk mengunjungi makam, tetapi jika ia menangis, maka haram baginya.

Ziarah Kubur Menurut Pandangan Mahdzab

Namun, jika terdapat perempuan yang dikhawatirkan dapat menyebabkan fitnah dan kerusakan dengan berziarah kubur, menurut pandangan Madzhab Hanafiyah dan Malikiyah, hukumnya haram.

Di sisi lain, Madzhab Hanbali berpendapat bahwa ziarah kubur secara mutlak merupakan perbuatan yang makruh bagi perempuan tua maupun muda. Jika diyakini bahwa kehadiran mereka dapat memicu fitnah, maka hukumnya menjadi haram.

Dalam perspektif Madzhab Syafi’iyah, ziarah kubur yang jaraknya jauh dan hanya dapat dicapai dengan perjalanan hukumnya mubah (boleh), bukan dianjurkan, bagi kaum perempuan baik yang muda maupun tua.

Dengan demikian, terdapat perbedaan pandangan di antara madzhab-madzhab dalam hal hukum dan anjuran ziarah kubur bagi perempuan. Oleh karena itu, penting bagi individu untuk merujuk kepada otoritas keagamaan yang terpercaya dan mengikuti pandangan yang sesuai dengan madzhabnya.

Terkait  Ilmu dan Adab, Mana yang Didahulukan?

Adab Ziarah Kubur

Namun, dalam melaksanakan ziarah kubur, penting bagi setiap individu untuk memahami dan mengamalkan adab yang benar. Adab merupakan etika dan tata krama yang harus diperhatikan saat menjalankan suatu amalan. Dalam konteks ziarah kubur, adab yang baik sangat penting untuk menjaga kehormatan dan kebersihan spiritual kita, serta untuk menghormati dan menghargai para orang yang telah pergi meninggalkan dunia ini.

Berikut ini adalah beberapa adab yang perlu diperhatikan saat melakukan ziarah kubur:

Niat yang Ikhlas

Sebelum memulai ziarah kubur, penting untuk menyadari tujuan yang tulus dan ikhlas di balik amalan ini. Niatkan ziarah kubur semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan mengingat kematian sebagai pengingat akan akhirat.

Berpakaian yang Sopan

Ketika melakukan ziarah kubur, perhatikan untuk berpakaian yang sopan dan rapi. Hindari pakaian yang mencolok atau terlalu terbuka. Pilihan pakaian yang sederhana dan tidak mencolok akan menunjukkan penghormatan dan kesungguhan kita dalam menjalankan ziarah kubur.

Wudhu

Sebelum memasuki area pemakaman, sebaiknya melakukan wudhu atau bersuci terlebih dahulu. Keadaan suci ini akan membantu kita untuk memasuki tempat yang sakral dan memberikan rasa kebersihan spiritual.

Mengucapkan Salam

Saat memasuki areal pemakaman, ucapkanlah doa dan salam berikut

Assalamu ‘alaikum yaa ahlal qubuuri, yaghfirullaahu lanaa wa lakum, antum salafuna wa nahnu bil atsar. Artinya: ” Salam sejahtera atas kamu sekalian wahai penghuni kubur. Semoga Allah mengampuni kami dan kamu sekalian

Mengirim Doa dan Dzikir

Saat berada di dekat kuburan, lakukanlah doa dan dzikir untuk orang yang telah meninggal. Bacakanlah surat Al-Fatihah dan doa-doa khusus untuk mereka. Juga, manfaatkan momen ini untuk merenungkan dan berdoa untuk diri sendiri dan orang-orang tercinta yang masih hidup.

Menjaga Kebersihan dan Kerapihan

Selama ziarah kubur, penting untuk menjaga kebersihan dan kerapihan di sekitar kuburan. Hindari membuang sampah sembarangan, dan jika memungkinkan, bantu menjaga dan merawat kuburan tersebut.

Terkait  Tentang dan Proses Hijrah Usman bin Affan

Menjaga Kesopanan

Saat melakukan ziarah kubur, tetaplah menjaga kesopanan dan menghormati tempat yang sakral ini. Hindari berbicara dengan suara keras atau melakukan tindakan yang mengganggu ketenangan di sekitar pemakaman.

“Barang siapa ingin ziarah (kubur) maka hendaklah dia ziarah, dan jangn mengucapkan hujran (perkataan yang buruk)” (HR Muslim)

Menghormati Privasi

Jika ada orang yang sedang melakukan ziarah kubur di sekitar area yang sama, berikanlah privasi dan ruang yang diperlukan. Hindari mengganggu mereka dalam doa dan refleksi pribadi mereka.

Menghindari Kesyirikan

Dalam ziarah kubur, perlu diingat bahwa hanya Allah SWT yang layak untuk diibadahi. Hindari melakukan tindakan yang berhubungan dengan kesyirikan, seperti meminta bantuan atau berdoa kepada orang yang telah meninggal.

Hukum Menabur Bunga di Makam

Menabur bunga di atas kuburan tidak dilarang secara hukum. Meskipun begitu, dalam channel youtubenya, Buya Yahya menjelaskan bahwa tidak ada hadits yang secara khusus menyebutkan tentang penggunaan bunga dalam konteks ziarah kubur. Buya Yahya merujuk pada kisah Nabi Muhammad SAW yang melewati dua kuburan dan mengetahui bahwa kedua penghuninya disiksa karena salah satunya meremehkan berwudhu dan yang lainnya suka menggunjing dan menciptakan perpecahan. Rasulullah kemudian mematahkan pelepah kurma dan menancapkannya ke dalam kuburan sebagai permohonan ampun bagi penghuninya.

Dari kisah ini, umat Muslim dianjurkan menancapkan sesuatu yang basah seperti pelepah kurma di atas kuburan. Namun, apakah bunga juga termasuk dalam kategori yang dianjurkan?

Menurut Buya Yahya, bunga dapat dianggap sebagai sesuatu yang basah. Di sisi lain, para ulama fikih juga menyatakan bahwa meletakkan dahan pohon yang masih segar di atas kubur adalah sunnah. Hal ini juga dapat mencakup benda-benda yang mengandung aroma yang sedap atau serupa dari zat yang basah-segar seperti bunga.

Namun, perlu diingat bahwa mencabut rumput yang tumbuh di atas kuburan tidak disarankan. Mengingat pelepah kurma atau benda basah lainnya dapat memohonkan ampun bagi penghuni kubur, maka lebih baik merapikan rumput tanpa mencabutnya. Semua tindakan ini bertujuan untuk memohonkan ampun bagi mereka yang berada di dalam kubur.

وَيُسَنُّ وَضْعُ الْجَرِيدِ الْأَخْضَرِ عَلَى الْقَبْرِ وَكَذَا الرَّيْحَانُ وَنَحْوُهُ مِنْ الشَّيْءِ الرَّطْبِ

“Peletakan dahan pohon yang masih segar di atas kubur disunnahkan. Demikian pula benda-benda yang mengandung aroma yang sedap atau serupa dari zat yang basah-segar (aneka flora),”  As-Syarbini, Al-Iqna pada Hamisy Tuhfatul Habib)

Terkait  Tradisi Puasa Non Muslim di Berbagai Agama. Apa Saja?

Dengan demikian, menabur bunga di atas kuburan tidak ada larangan hukumnya, dan meletakkan sesuatu yang basah atau segar seperti pelepah kurma atau benda-benda yang memiliki aroma sedap di atas kuburan adalah dianjurkan dalam praktik ziarah kubur.

Hukum Berziarah ke Makam Orang Kafir

Sayyid Sabiq dalam bukunya, Fiqih Sunnah, mengemukakan bahwa tujuan dari ziarah kubur adalah untuk mengingat akan kematian dan mengambil pelajaran darinya. Oleh karena itu, ziarah kubur ke makam orang kafir juga diperbolehkan.

Ia juga menyebutkan bahwa jika seseorang melewati kuburan orang-orang yang pernah melakukan kezaliman dan Allah SWT memberikan siksaan kepada mereka karena perbuatan mereka di masa lalu, dianjurkan untuk menangis dan menunjukkan rasa rendah diri terhadap mereka. Pandangan ini didasarkan pada hadits riwayat Ibnu Umar, di mana Nabi SAW bersabda kepada para sahabatnya ketika mereka sampai di Hijr (perkampungan kaum Tsamud).

Dengan demikian, menurut Sayyid Sabiq, ziarah kubur dapat mencakup makam orang kafir dan jika seseorang melewati kuburan orang-orang yang melakukan kezaliman, dianjurkan untuk menunjukkan emosi yang sesuai dengan kondisi tersebut.

Rasulullah SAW bersabda:

“Janganlah kalian memasuki (makam) orang-orang yang mendapatkan siksa kecuali dalam keadaan menangis. Jika kalian tidak menangis, maka jangan masuk ke (makam) mereka, apa yang menimpa mereka tidak akan menimpa kalian.” (HR Bukhari dalam kitab Ash-Shalah)

Melaksanakan ziarah kubur dengan adab yang baik akan meningkatkan nilai spiritual dan keberkahan dari amalan tersebut. Dengan mengamalkan adab yang benar, kita menunjukkan rasa hormat dan penghormatan yang seharusnya kepada orang-orang yang telah pergi meninggalkan dunia ini. Ziarah kubur bukan hanya sekadar tradisi, tetapi juga merupakan sarana yang memungkinkan kita untuk merenungkan hidup kita, memperbaiki diri, dan menjalin hubungan yang lebih dekat dengan Allah SWT.