Birrul Walidain: Perintah, Kedudukan, Keutamaan Ibu, dan Perilaku Orang Tua

Birrul Walidain: Perintah, Kedudukan, Keutamaan Ibu, dan Perilaku Orang Tua

November 30, 2022 0 By Yuliarti Selli

Birru Walidain, menjadi salah satu perintah Allah yang wajib dilakukan, jika mengarah kepada kebenaran dan kebaikan Islam. Perintah Allah ini, lebih ke berbakti kepada orang tua. Oleh karena itu, sebagai seorang muslim, kita harus berbuat baik, kepada orang tua, salah satunya.

Bukan hanya sekedar memenuhi tuntutan norma kesopanan yang ada, tetapi lebih ke ibadah kepada Allah, sebagai wujud taat seorang hamba kepada Tuhannya. Hal ini, juga diajarkan oleh Rasulullah selama beliau hidup. Agar pengikut-pengikutnya nanti, tidak salah dalam berguru.

Tentang Birrul Walidain

Terdapat 4 ayat nyata, yang mana memerintahkan seluruh umatnya untuk berbakti kepada orang tua. Seperti dikutip dalam ayat-ayat berikut:

1. Allah berfirman:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

Artinya: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua” (QS. An Nisa: 36).

2. Di ayat bawah ini, Allah memerintahkan Birul Walidain dalam firmannya:

قُلْ تَعَالَوْا اَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ اَلَّا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًاۚ

Artinya: “Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang tua..” (QS. Al An’am: 151).

3. Perintah untuk Birrul Walidain juga ada di ayat ini:

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

Artinya: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya” (QS. Al Isra: 23).

4. Perintah Rasulullah untuk umatnya:

أيُّ العَمَلِ أحَبُّ إلى اللَّهِ؟ قالَ: الصَّلاةُ علَى وقْتِها، قالَ: ثُمَّ أيٌّ؟ قالَ: ثُمَّ برُّ الوالِدَيْنِ قالَ: ثُمَّ أيٌّ؟ قالَ: الجِهادُ في سَبيلِ اللَّهِ قالَ: حدَّثَني بهِنَّ، ولَوِ اسْتَزَدْتُهُ لَزادَنِي

Artinya: “Amal apa yang paling dicintai Allah ‘Azza Wa Jalla?”. Nabi bersabda: “Shalat pada waktunya”. Ibnu Mas’ud bertanya lagi: “Lalu apa lagi?”.Nabi menjawab: “Lalu birrul walidain”. Ibnu Mas’ud bertanya lagi: “Lalu apa lagi?”. Nabi menjawab: “Jihad fi sabilillah”. Demikian yang beliau katakan, andai aku bertanya lagi, nampaknya beliau akan menambahkan lagi (HR. Bukhari dan Muslim).

Jadi, bisa dibilang, bahwa Birrul Walidain bukan hanya anjuran, tetapi perintah dari Allah dan Rasul (Muhammad SAW).

Kedudukan Birrul Walidain

Ketahui, bahwa kedudukan berbakti kepada orang tua, adalah tinggi. Berbakti, tidak hanya meliputi balas jasa, kepantasan, dan kesopanan, tetapi poin-poin tersebut dapat menggambarkan seberapa pentingnya Birrul Walidain bagi orang muslim.

Berikut adalah kedudukan atau kepentingan kenapa kita harus berbakti kepada orang tua:

1. Perintah yang penting setelah perintah untuk tauhid

Maksudnya adalah, dengan adanya tauhid kita melakukan semua hal baik hanya untuk ibadah semata-mata ke Allah SWT. Perintah untuk tauhid, adalah yang pertama dan utama dilakukan bagi seorang muaslim. Salah satunya perintah berbakti kepada orang tua setelah tauhid (nomor 2 setelah tauhid).

2. Birrul Walidain lebih utama daripada jihad fi sabililah

Maksudnya adalah berbakti kepada orang tua, lebih utama dari semua amalan yang keutamaannya di bawah Jihad fi Sabiilillah. Birrul Walidain lebih utama dari Thalabul Ilmi, selama bukan menuntut ilmu wajib. Birrul Walidain juga harus diutama dari Safar yang tidak wajib.

3. Sebagai salah satu pintu surga (cara masuk surga)

Ingat, surga memiliki beberapa pintu yang nantinya dihuni oleh orang-orang yang beriman dengan tingkatan masing-masing. Salah satu hal, yang bisa mengantarkan kita pada pintu surga adalah Birrul Walidain. Kedua orang tua, adalah pintu surga yang berada di tengah-tengah.

4. Salah satu cara bertawasul kepada Allah

Tawasul sendiri, artinya mengambil perantara menuju ridha Allah dan pertolongan-Nya. Salah satu bertawasul atau melakukan amal shalih adalah dengan berbakti kepada orang tua, dan ini dianggap paling ampuh.

Kedudukan Ibu Lebih Utama

Ketahui, kedudukan utama seorang ibu dalam Birrul Walidain adalah lebih utama dari Bapak atau seorang Ayah. Hal tersebut, dibuktikan dalam 4 dali, diantaranya:

1. Dalil 1

Dari Mu’awiyah bin Haidah Al Qusyairi radhiallahu’ahu, bertanya kepada Nabi Muhammad, yaitu:

يا رسولَ اللهِ ! مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ : قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أباك ، ثُمَّ الأَقْرَبَ فَالأَقْرَبَ

Artinya: “Wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak aku perlakukan dengan baik? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: ayahmu, lalu yang lebih dekat setelahnya dan setelahnya” (HR. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad, sanadnya hasan).

2. Dalil 2

Dari Miqdam bin Ma’di Yakrib, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

ِإِنَّ اللَّهَ يوصيكم بأمَّهاتِكُم ثلاثًا، إنَّ اللَّهَ يوصيكم بآبائِكُم، إنَّ اللَّهَ يوصيكم بالأقرَبِ فالأقرَبِ

 

Artinya: “Sesungguhnya Allah berwasiat 3x kepada kalian untuk berbuat baik kepada ibu kalian, sesungguhnya Allah berwasiat kepada kalian untuk berbuat baik kepada ayah kalian, sesungguhnya Allah berwasiat kepada kalian untuk berbuat baik kepada kerabat yang paling dekat kemudian yang dekat” (HR. Ibnu Majah, shahih dengan syawahidnya).

3. Dalil 3

Dari Atha bin Yassar, ia berkata:

عن ابنِ عبَّاسٍ أنَّهُ أتاهُ رجلٌ ، فقالَ : إنِّي خَطبتُ امرأةً فأبَت أن تنكِحَني ، وخطبَها غَيري فأحبَّت أن تنكِحَهُ ، فَغِرْتُ علَيها فقتَلتُها ، فَهَل لي مِن تَوبةٍ ؟ قالَ : أُمُّكَ حَيَّةٌ ؟ قالَ : لا ، قالَ : تُب إلى اللَّهِ عزَّ وجلَّ ، وتقَرَّب إليهِ ما استَطعتَ ، فذَهَبتُ فسألتُ ابنَ عبَّاسٍ : لمَ سألتَهُ عن حياةِ أُمِّهِ ؟ فقالَ : إنِّي لا أعلَمُ عملًا أقرَبَ إلى اللَّهِ عزَّ وجلَّ مِن برِّ الوالِدةِ

Artinya: “Dari Ibnu ‘Abbas, ada seorang lelaki datang kepadanya, lalu berkata kepada Ibnu Abbas: saya pernah ingin melamar seorang wanita, namun ia enggan menikah dengan saya. Lalu ada orang lain yang melamarnya, lalu si wanita tersebut mau menikah dengannya. Aku pun cemburu dan membunuh sang wanita tersebut. Apakah saya masih bisa bertaubat? Ibnu Abbas menjawab: apakah ibumu masih hidup? Lelaki tadi menjawab: Tidak, sudah meninggal. Lalu Ibnu Abbas mengatakan: kalau begitu bertaubatlah kepada Allah dan dekatkanlah diri kepadaNya sedekat-dekatnya. Lalu lelaki itu pergi. Aku (Atha’) bertanya kepada Ibnu Abbas: kenapa anda bertanya kepadanya tentang ibunya masih hidup atau tidak? Ibnu Abbas menjawab: aku tidak tahu amalan yang paling bisa mendekatkan diri kepada Allah selain birrul walidain” (HR. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad, sanadnya shahih).

4. Dalil 4

Dari kisah Uwais Al Qorni yang sampai sahabat Nabi sekelas Umar bin Khathab dan yang lainnya dianjurkan oleh Rasulullah untuk menemui Uwais. Hal ini didasarkan pada hebatnya birrul walidain Uwais terhadap ibunya. Nabi Shallallahu’alaihi Wassallam bersabda:

إن خيرَ التابعين رجلٌ يقالُ له أويسٌ . وله والدةٌ . وكان به بياضٌ . فمروه فليستغفرْ لكم

Artinya: “sesungguhnya tabi’in yang terbaik adalah seorang lelaki bernama Uwais, ia memiliki seorang ibu, dan ia memiliki tanda putih di tubuhnya. Maka temuilah ia dan mintalah ampunan kepada Allah melalui dia untuk kalian” (HR. Muslim).

Perilaku Orang Tua

Hal-hal yang perlu digarisbawahi mengenai perilaku orang tua, jika didasari dari Birrul Walidain:

  1. Ambil opini orang tua, yang dirasa masih lebih dekat dengan ketakwaan kita sebagai umat muslim, beserta ihsan-Nya.
  2. Lihat perkara yang sedang dihadapi dan cara penyelesaiannya melalui Islam.
  3. Jangan membalas perilaku buruk orang tua dengan perilaku buruk juga.
  4. Jangan mencoba durhaka kepada orang tua, walaupun orang tua kita adalah pribadi yang buruk, tapi selesaikan secara Islam.

Itulah penjelasan mengenai Birrul Walidain, semoga bermanfaat!