Tingkatan Membaca Al-Qur’an, Dimulai Sejak Dini yang Sesuai Pembelajaran

Tingkatan Membaca Al-Qur’an, Dimulai Sejak Dini yang Sesuai Pembelajaran

Desember 7, 2022 0 By Yuliarti Selli

Al-Qur’an, menjadi kitab Allah dan harus dipelajari oleh umat Islam, entah lewat perantara pengajaran maupun pembelajaran. Al-Qur’an sendiri, bisa dipelajari sejak dini, mulai dari usia anak-anak hingga dewasa. Tidak ada batasan. Dalam belajarnya pun, terdiri dari beberapa tingkatan yang harus dilalui.

Entah dalam membaca, maupun menulis. Semua itu, perlu dipelajari. Jangan sampai, kita sebagai umat muslim tidak mempelajari hal tersebut. Jika kita yakin, bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk terbaik dalam mengatasi kehidupan, maka alangkah lebih baik, anak juga dididik dan dikenalkan dengan kitab Allah ini.

Berikut adalah beberapa tingkatan yang harus dilalui dalam mempelajari pembacaan Al-Qur’an:

1. Tahqiq

Tahqiq, secara bahasa adalah tarqiq dan ta’kid (teliti dan menguatkan). Tahqiq, secara istilah adalah “Membaca dengan lambat dan tenang dengan benar-benar memberikan haknya secara benar dan maksimal tanpa ada tambahan dan pengurangan. Tingkatan ini cocok digunakan dalam proses belajar-mengajar” (Hilyatut Tilawah).

Tingkatan ini, termasuk ke dalam pemula, atau yang dianggap baru belajar. Tahapan dalam ilmu tajwid ini, dalam cara bacanya seperti Tartil, tetapi temponya lebih lambat dan tenang. Bacaan Tahqiq, dijelaskan melalui mazhab Qiraat Hamzah dan Qiraat Warsh yang bukan dari Tariq Asbahani.

Tahqiq, bisa dibilang sebagai tingkatan pertama dalam belajar. Tempo bacaan yang ada, digunakan untuk pemula yang memang niatnya belajar, dan tidak langsung mahir. Jadi diajarkan pelan-pelan tanpa agar bisa paham secara seutuhnya.

2. Tartil

At-Tartil menurut arti kata adalah perlahan-lahan. Dalam Tafsir Ibnu Katsir, tartil, adalah membaca sesuai hukum tajwid dan dengan tartil akan membantu seseorang dalam memahami dan mentadabburi Al-Qur’an.

Tartil juga diartikan sebagai membaca dengan memberikan hak-hak dan sifat-sifat, dan meembaca dengan tartil sanat dianjurkan sebagaimana firman Allah: “Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan tartil.” (QS. Al-Muzzammil: 4). Tartil, masuk pada tingkatan kedua dalam baca Al-Qur’an.

Setiap muslim, diharapkan bisa Tartil, karena muslim yang layak adalah muslim yang sudah bisa Tartil. Dari sini, Qori akan membaca Al Qur’an dengan pelan atau tidak tergesa-gesa, dan tenang. Setiap huruf yang dibaca harus jelas dan tepat sesuai dengan kaidah ilmu tajwid, yang ada.

3. Tadwir

Tadwir, adalah menjadikan suatu hal dengan bentuk melingkar. Secara istilah, Tadwir adalah “Bacaan yang sedang, yaitu antara tahqiq (perlahan) dan hadr (cepat)” (Ilmit Tajwid lil Mutaqaddimin). Tadwir sendiri, adalah tingkatan pertengahan antara tempo pelan dan cepat.

Bacaan tingkatan ini, sering didengar dalam salat jamaah dengan membaca Mad Munfasil tidak lebih dari 6 harakat. Tahapan ketiga ini, dianggap memiliki tempo yang sedang. Qori, nantinya bertemu dengan huruf mad, tidak dipenuhkan.

Bacaan ini, juga sering digunakan untuk praktik tadarus. Kelebihan dari bacaan ini adalah, bacaannya dapat dituntaskan lebih cepat daripada tingkatan baca sebelumnya. Walaupun begitu, bacaan dapat ditunaikan hak-hak huruf dan makhraj, shifat, ataupun hukum-hukum tajwid.

4. Hadr (Hadar)

Hadr, adalah as-su’rah (cepat) jika diartikan secara bahasa. Jika diistilahkan, maka hadr adalah “Bacaan cepat dengan tetap menjaga dan memperhatikan kaedah-kaedah tajwid dengan sangat cermat, dan seorang qari akan berhati-hati dalam memotong huruf mad, menghilangkan suara ghunnah, atau ikhtilas (membaca sebagian) harakat” (Hilyatut Tilawah).

Tingkatan paling cepat ini, masih menjaga hukum-hukum Tajwid. Bacaan ini, sering dipakai oleh penghafal Al-Qur’an  saat mengulang hafalannya. Cara membaca ada kalanya berdengung dan saat wakaf, dia akan berhenti. Bacaan Hadar, lebih ke membaca Mad Munfasil dengan 2 harakat.

Tempo cepat ini, dengan memperpendek bacaan mad atau mengurangi ghunnah, dan kaidah ilmu Tajwid masih dipakai disini. Ini bisa dilakukan seorang Qori saat membaca Al-Qur’an dalam satu hari satu juz.

Itulah, penjelasan mengenai tingkatan membaca dalam Al-Qur’an. Pastikan, dalam mempelajari harus pasti, jangan tergesa-gesa. Mencoba memahami bukan merasa sudah benar dengan pemaknaan sendiri. Karena tepat itu perlu.